Posted by: mountnebo | July 29, 2009

cerpen : Kebun Sayur Avner

Kebun Sayur Avner

Avner tercenung di depan pintu masuk kebun sayur milik keluarganya. Hampir tidak ada gairah untuk bermain hari ini. Dia menyandarkan bahunya yang kecil di pagar kebun, seraya menatap hamparan langit biru tanpa batas, tanpa awan. Cuaca mulai terasa panas dan kering dimana-mana.

Di kebun sayur itu, suasana sejuk dan pemandangan serba hijau masih terasa. Ayah dan kakaknya Ruben, yang menyulap sepetak kecil lahan bersemak tak terurus menjadi tempat yang asri seperti ini. Tempat bermain dan bersantai sekaligus sumber pelengkap menu makanan keluarganya yang memang menyukai makanan sayur mayur.

Tetapi yang pasti, bukan cuaca panas yang menjadi penyebab gairah bermain Avner drastis berkurang. Pembicaraan antara mereka bersaudara, si bungsu Avner, dan kakak-kakaknya Josiah, Ruben dan Daniel begitu mengusik pikirannya lebih dari yang sudah-sudah. Dan seringkali terucap kata-kata dari bibir Josiah tentang hal-hal yang membingungkan mereka.

Diantara mereka, Josiah memang tampak unik kalau tidak bisa dikatakan aneh. Itu biasa, dalam setiap keluarga, pasti ada salah satu anggotanya yang cenderung menyimpang. Begitulah si sulung Daniel berteori mengenai salah satu adiknya. Anggapan ini tentu saja ditentang keras oleh ayah dan ibu mereka, yang justru beranggapan Josiah adalah anak yang paling berbakat, mewarisi cara berpikir leluhur mereka yang berasal dari seberang nun jauh di sana. Josiah memiliki kemampuan berpikir secara mendalam dan sangat memahami kitab suci dan begitu merenungkannya siang dan malam. Ditambah lagi kefasihannya berbahasa asli leluhur mereka. Tak bosan-bosannya ibu bercerita dengan bangga kepada setiap orang perihal niat Josiah untuk menjadi pendeta.

Bagi Avner, ayah dan ketiga kakaknya adalah para lelaki yang mengaggumkan. Selalu ada sisi yang menarik dari mereka yang secara diam – diam disimpan di dalam hatinya. Pada saat sedang sendiri, Avner sering mencoba meniru gaya dan tingkah laku mereka.

Ayah adalah seorang pekerja keras yang tekun dan selalu sabar. Dia punya toko kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Sesekali Avner mengikuti ayahnya ke kota untuk berdagang. Begitu juga kakaknya yang lain, kecuali Daniel. Dia selalu menunjukkan kengganannya jika ayah minta bantuannya untuk mengurus toko.

Entah kenapa, Daniel terkadang menyesali sikap ayah yang dinilainya lamban dan berwawasan sempit. Dan juga dengan lancangnya dia menganggap kaum pendatang seperti mereka telah kehilangan jatidiri yang sebenarnya. Pekerjaan yang dilakoni ayahnya, paman dan kerabat lainnya , tak lebih daripada pelarian yang putus asa dari ketidakmampuan mereka mengulang kejayaan dan kegemilangan masa lampau.

Bagi Daniel pekerjaan seperti berdagang, pandai besi, penjahit, tukang sepatu, dan pekerjaan bertukang lainnya amat menjemukan dan tidak ada gairah di dalamnya. Mengapa tidak ada yang menjadi pemimpin dan pejabat di negeri ini ? Mengapa mereka seperti menjauh dari dunia kemiliteran ? Kita juga termasuk bangsa petarung yang mengaggumkan. Ada tercatat dalam sejarah dan sudah ditulis oleh nabi, baca kitab suci ! Begitu bersemangatnya dia di tengah-tengah debat dengan teman-temannya yang kadang kala memuncak menjadi pemicu pertengkaran.

Tapi pada kenyataannya, Daniel yang tampak garang dan pemberani itu ternyata ciut juga nyalinya pada saat berhadapan dengan sekelompok anak-anak yang memang sepertinya diajarkan untuk tidak menyukai mereka. Daniel dan Ruben hanya bisa terdiam sambil mengertakkan gigi mendengarkan penghinaan dan segala macam ocehan tentang keluarga dan leluhur mereka. Justru Josiah si ‘nabi kecil’ – begitulah Daniel menjulukinya – yang tampil ke depan dengan wajahnya yang dingin.

Di hadapan Josiah, kelompok pengganggu itu terdiam saja. Lidah mereka kelu tak mampu berbalas kata dengannya. Remaja tanggung berkacamata ini tampak terlalu bijak untuk mereka hadapi.
Seperti yang diyakini ibu mereka, anak ini memang punya hikmat.

Avner tidak tahu persis kapan dimulainya perseteruan ini dimulai. Tetapi yang pasti, dia sudah belajar banyak dari para orang dewasa, bagaimana mesti bersikap menghadapi mereka. Sekalipun tidak semua bersikap mencemooh, tetapi terasa ada jarak yang terbentang, ditambah sikap was-was mereka yang tidak akan bisa diselubungi dengan senyum dan tawa.

Lamunan Avner pecah, bersamaan dengan suara ibunya yang melengking memanggil namanya dari teras rumah. Angin sore yang dingin menusuk kulit sepertinya memaksa dia untuk kembali ke rumah. Sebelum beranjak bangkit, sekilas dia menatap kebun sayur kesayangannya. Tak rela di melepaskan kebun itu sedetikpun. Kata-kata Josiah masih terngiang di benaknya, bahwa kebun itu tak lama lagi akan lenyap !

Sambil mengunyah roti perlahan, Avner tak melepaskan pandangannya sepicingpun ke arah kakaknya yang aneh ini, Josiah. Kali ini dia sepakat dengan si sulung Daniel, Josiah memang aneh !

“ Ada apa Avner, kurang bersemangat hari Nak ?” ayahnya menatap lembut.

“ Tidak ada yang kurang, Yah. Baik-baik saja “ tukas Avner cepat seolah khawatir pandangan mata ayahnya menembus isi benaknya. Dia berharap ayah tidak banyak berkomentar lagi tentang dirinya. Sebab dia yakin ayah mereka punya kemampuan membaca isi hati anak-anaknya.

“ Seharian kamu di kebun sayur, tadinya ayah mau mengajak kamu ke kota, tapi tampaknya kamu asik sekali “ senyum ayah mengembang.

“ Hemh, dia takut kehilangan kebunnya itu Yah ” tanpa diminta Daniel langsung berkomentar memancing pembicaraan mengarah menjadi lebih serius. “ Si bungsu jadi korban ‘nubuatan’ pendeta kita ini ” katanya sambil menepuk bahu Josiah sambil mencoba bersikap jenaka membelalakkan matanya.

Avner menjadi serba salah. Diliriknya wajah Josiah, dingin seperti biasa. Sulit memang untuk mencoba menebak reaksi Josiah.

Ruben seperti berupaya mengendalikan diri supaya tidak sampai meledakkan tawanya. Tidak demikian dengan ibu yang tampak tidak senang dengan sikap Daniel.

“ Coba jelaskan ada apa semua ini “ tanya ibu datar, tetapi mengandung kesungguhan yang dalam. Khas sikap ibu. Pandangan ibu beralih dari Daniel ke Josiah. Ruben segera mengatupkan bibirnya. Akhirnya semua mata terarah kepada Josiah.

“ Saya merasa kebun sayur kita tak lama lagi akan rusak “ Josiah nyaris bergumam.

“ Betul nak, relakan saja. Musim panas kali ini lebih parah tampaknya. Itu bagian dari peristiwa alam “ ayah tersenyum bijak, mencoba memberi pengertian.

“ Tidak ada hubungannya dengan peristiwa alam, ayah …..” lirih suara Josiah

Ayah terdiam sejenak, menarik nafas perlahan kemudian mengendurkan senyumnya. Memandang ke semua yang ada di meja makan dan berkata, “ Ayah masih belum mengerti ada apa sebenarnya, Josiah bisakah kamu menjelaskannya nak ?”

“ Akan banyak kerusakan terjadi ayah “ Josiah memejamkan mata seperti mencoba mengingat – ngat sesuatu. Seperti berusaha untuk menumpahkan apa yang masih tersimpan dalam ingatannya.

“ Saya tidak bisa menjelaskan dengan lebih rinci, tetapi saya bisa merasakan panas dan perih oleh api, asap dan pukulan bertubi – tubi. Semua roboh dan terbakar. Kita bahkan tercerai berai berlari ketakutan “ Josiah berkata-kata dengan lancar dan datar, tetapi dengan ekspresi wajah diliputi kecemasan amat sangat.

Mata Josiah berair, nanar dan tampak lelah. Mungkin itulah penyebab Avner bersepakat untuk menilai Josiah adalah kakak yang aneh. Darimana dia bisa mendapatkan bayangan mengerikan seperti yang dia ceritakan tadi. Apakah hal itu yang mengganggu tidurnya, yang mampu menyangga kepalanya bertahan tetap tegak sampai dini hari seraya memandang ke arah padang dan rawa yang mulai mengering di ujung bukit tempat matahari jatuh ? Kenapa Josiah terus saja memandang ke arah itu ?

Ibu menutup pembicaraan yang masih menggantung dan meninggalkan banyak pertanyaan di benak mereka. Avner yakin ibu mereka juga dilanda kebingungan yang sama. Ibu menyuruh anak-anak ke kamar dan tanpa banyak bicara membersihkan meja makan. Sekilas Avner melirik ke arah ayah dan ibu yang saling berpandangan, sebelum akhirnya ibu menatap tajam untuk menegaskan ulang perintahnya menyuruh Avner menyusul kakaknya ke kamar tidur.

Avner berusaha keras memejamkan matanya. Ah, dia yakin bahwa kedua orangtuanya sebenarnya faham betul apa yang dimaksud Josiah. Tampaknya mereka enggan membicarakan lebih lanjut kepada anak-anak. Apakah itu yang dinamakan nubuat ? Bayangan – bayangan yang muncul di malam hari, mengganggu kenyamanan tidur, mengusir kehangatan selimut, terus dan terus datang sampai akhirnya nubuat itu menjadi nyata.

Akhirnya Avner menyerah, di tengah usahanya untuk bisa tidur dengan lelap dan mendengkur seperti Ruben yang sudah lebih dahulu masuk ke alam mimpi. Senang bisa seperti Ruben, batin Avner. Kakaknya yang satu ini memang selalu tidur lelap, karena sehari-harinya dia selalu sibuk. Sepulang dari sekolah, dia membantu ayah dan ibu mereka, berolahraga atau sekedar menguji ketahanan tubuhnya mendaki bukit sampai terengah-engah. Tak ada hal yang bisa membuat Ruben cemas atau bingung. Segala sesuatu bisa menjadi menyenangkan baginya.

Avner melangkah perlahan menggeser kakinya menjauhi tempat tidur sambil memiringkan kepalanya mencoba mendengarkan suara orang sedang asyik mengobrol. Jemarinya menyingkap gorden , dan tampak ayah, ibu dan paman Jacob dan beberapa orang tua tetangga mereka. Tak biasanya paman Jacob datang berkunjung ke rumah apalagi larut malam begini. Tampaknya ayah sengaja mengundang mereka.

“ Cepat atau lambat gerakan mereka akan menyebar ke seluruh negeri sampai ke Timur “ paman Jacob angkat bicara seperti mencoba meyakinkan ayah.

“ Saya kira mereka tidak akan gegabah untuk segera masuk ke negeri ini. Ada perjanjian yang sudah mereka sepakati di waktu yang lampau dengan pihak Barat yang perduli dengan kita. Bukan kah begitu ?”

Pak tua di sebelah paman Jacob menggeleng lemah, berat rasanya untuk menyetujui kata-kata ayah barusan. “ Perjanjian tinggal perjanjian, Micah. Mereka bahkan menginjak-injak kesepakatan dengan pemimpin mereka yang terdahulu. Kau ingat ? “

Ayah mengusap kepalanya yang hampir seluruh rambutnya mulai memutih itu. Malam ini ayah tampak semakin tua. “ Di bulan ini, di bulan yang sama pada tahun lalu, ribuan saudara kita dibuang secara paksa ke tanah tak bertuan, perbatasan negeri ini dengan negeri mereka”. Ayah memandang barisan rumah berbatu bata merah khas desa mereka, yang disinari bulan purnama. “ Celakanya petugas perbatasan negeri ini menolak mereka untuk masuk “

“ Ada anak-anak yang mati kedinginan tak kuat menanggung derita “ bisik ibu pilu.

“ Akankah mereka menyebarkan semua amarah dan kebencian ini ke seluruh benua ?” lirih kata paman Jacob seperti bertanya pada diri sendiri.

“ Kita harus bersiap Jacob, ini hanya masalah waktu saja. Mengerikan sekali kalau mereka masuk tanpa tanda-tanda sama sekali “ desak ayah. “ Apalagi anak-anak sudah mulai gelisah “

“ Anak – anak …?” mata paman Jacob terbelalak

“ Yahhh……biasanya memang Josiah yang selalu berfirasat seperti itu “ ayah mencoba menjelaskan walaupun tampaknya masih bingung mengahadapi Josiah. .“ Anak-anak yang lain menggodanya bahwa dia bernubuat “ ayah tersenyum getir.

“ Josiah mengalami mimpi buruk beberapa malam terakhir ini. Dia seperti mendapat penglihatan yang mengerikan yang akan terjadi. Dua kekuatan akan mencerai beraikan kita. Seorang pria berkumis kecil dari Barat dan seorang lagi pria berkumis besar dari Timur akan memisahkan kita tanpa belas kasihan sama sekali. Kasihan Josiah, batinnya tersiksa……”

Ibu menggenggam tangan ayah erat – erat.

Selanjutnya yang terjadi adalah hari – hari yang menyesakkan dada. Tak akan ada lagi peristiwa yang mampu meninggalkan goresan lebih dalam di batin Avner di banding pemandangan mencekam ketika seorang dengan seragam hitam kontras dengan rambut pirang terang keemasan mencengkeram rambut seorang oma tetangga sebelah rumah mereka. Dengan wajah tanpa ekspresi kecuali garis bibir yang yang sedikit tersenyum aneh, orang itu menyeret perempuan tua yang malang itu menuju kumpulan orang-oarng yang akan dibawa entah kemana.

Apakah peristiwa ini ada dalam mimpi-mimpi buruk Josiah, batin Avner. Asap mengepul dimana-mana, bangunan banyak yang terbakar sampai roboh. Avner masih terdiam dalam pelukan ibunya yang masih saja berteriak-teriak memanggil Daniel. Sedangkan ayah bersama dengan paman Jacob dan kakaknya Ruben bergerak menuju hutan dengan beberapa orang dewasa. Mereka akan berjanji akan kembali menjemput Avner dan ibunya. Ibu hanya bisa manggut-manggut saja terisak berdua dengan Avner di gudang bawah tanah, tempat ayah biasanya menyimpan alat-alat pertanian mereka.

Ibu terdiam sambil mengunyah roti yang dibawa Ruben dan ayah mereka. Ibu menangis seharian sampai terduduk kelelahan bersandar di dinding gudang. Pandangan matanya kosong dengan kantong mata yang menggantung dan berdebu. Debu yang sama juga menyelimuti seluruh tubuh ibu yang sebelumnya secara paksa ditarik oleh ayah mereka, ketika berteriak histeris menyaksikan tubuh ringkih Josiah bergoyang limbung kesana kemari tak kunjung jatuh karena terjangan peluru dari berbagai arah.

Josiah sudah tiada. Mungkin dia sudah mendapat penglihatan bahwa hidupnya akan berakhir dengan cara seperi itu. Kata ayah, Josiah sudah berada di surga. Tinggal bahagia dan merdeka di sana bersama para para pahlawan dari abad-abad lampau dan tentu saja bersama para nabi.

Tenaga ayah sudah terkuras ketika berupaya menenangkan ibu. Dia tak mampu lagi membujuk Daniel yang berteriak-teriak meradang dengan mata merah menahan amarah yang meluap-luap.

“ Seperti yang sering ayah baca di kitab suci, kita juga adalah bangsa petarung ayah ! “
“ Kita punya pahlawan yang mampu menaklukkan bangsa-bangsa dan kita juga punya nabi-nabi yang tak putus-putusnya berdoa untuk kita. Kita harus melawan ayah !”

Ayah hanya menggeleng lemah. “ Pemerintah negeri ini sudah takluk anakku. Tentara juga sudah menyerah. Mereka datang bergerak cepat dan kuat. Mereka sungguh kuat “

“ Tidak ayah !”. Daniel beringas dengan mata mencorong. “Aku akan bergabung dengan kelompok perlawanan. Aku mampu menggunakan senjata, ayah. Jari – jari ini tidak hanya sekedar bisa memasang sol sepatu atau hanya menarik garu jerami. Tapi juga mampu untuk melawan…”, kata-kata Daniel terakhir bergetar seperti melawan tangis.

Daniel berpamitan kepada ayah, kemudian memeluk erat ibu dan menciumi keningnya sepuas-puasnya, mungkin pertanda bahwa dia tidak akan kembali. Dia menghampiri Ruben, menjabat erat dan mencengkeram bahunya dan mereka tertawa sambil menangis.

Wajah si sulung Daniel tampak puas, bahagia. Seperti terbebas dari beban yang menghimpit selama ini. Bebas bersikap yang sejati,yang selama ini tersimpan di lubuk hatinya. Ayah dan ibu juga rela melepasnya dan membekalinya dengan doa.

“ Adik kecil….” Daniel merengkuh Avner, menghirup aroma tubuh adiknya dan menciumi wajahnya. “ Aku satu-satunya kakakmu yang hampir tidak pernah memberikan apapun kepadamu , tapi kali ini ada kenang-kenangan untukmu “ , Daniel menyelipkan foto kecil berpigura ke dalam saku baju adiknya. Avner segera mengambil foto tersebut dan menatap gambar Daniel berdiri gagah memanggul senapan berburu.

Langit mulai memerah ketika mereka tiba di puncak bukit. Avner tahu persis tempat ini yang sering ditatap kakaknya Josiah ketika mimpi-mimpi buruk datang mengganggu. Jauh di belakang mereka masih terlihat asap yang mengepul dari puing-puing desa mereka. Tak tampak lagi deretan rumah berbatu bata merah yang biasanya tampak cantik dilihat dari kejauhan. Yang tersisa hanya reruntuhan hitam dan kusam.

Ayah menarik Avner ke pangkuannya sambil menunjuk ke satu tempat. Sekalipun temaram mulai meliputi sekelilingnya, Avner masih bisa melihat tempat yang sudah sangat dikenalnya. Sebagian pagar sudah roboh dilindas tank dan panser. Tapi masih tersisa pintu pagar buatan Ruben berdiri tegak. Kebun sayur kesayangan Avner sudah tidak berbentuk, berantakan. Gemetar tangan mungil Avner memegang teropong milik paman Jacob.

Tangan ayahnya yang kokoh mendekapnya erat. “ Tidak perlu sedih ,nak. Ayah berjanji kita akan buat lagi kebun sayur yang lebih bagus, lebih indah….”, Avner seketika merasakan dada ayah bergetar.

“ Di mana, ayah ? ” Avner menengadah mencari kepastian dari wajah ayahnya.

“ Di suatu tempat nak, di suatu tempat yang baru“ bisik ayahnya.

Panggilan paman Jacob segera mengingatkan mereka untuk berkumpul dan melanjutkan perjalanan. Bergegas mereka menuruni bukit, dan bersiap memasuki hutan yang tampak hijau gelap tak bertepi, yang untuk sementara mampu meluputkan mereka dari maut.

– Jakarta, Awal Juli 2009 –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: