Posted by: mountnebo | May 6, 2009

Lelaki Mata Kelam

Lelaki Mata Kelam

Sesekali aku melirik ke arah pintu gudang yang terbuka setengahnya. Sejak tadi pagi lelaki itu berdiri mematung dengan pandangan mata yang sama seperti hari – hari kemarin. Dari kejauhan matanya tampak dalam dan kelam. Mengingatkanku kepada beberapa orang terdekat yang kukenal baik. Sepertinya mata itu memang menjadi ciri khas untuk sekelompok orang tertentu. Aku bahkan ingin tahu seperti apa bentuk kelopak matanya, tapi sayang, aku selalu berada pada jarak yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Dia tidak pernah beranjak dari gudang itu, sementara aku selalu berada di dermaga bermandi peluh membongkar muat barang-barang.

Kira-kira sudah tiga bulan aku bekerja di pelabuhan ini, yang selalu hiruk pikuk mulai pagi sampai sore hari. Pekerjaan yang sangat mengandalkan otot dan keberanian. Saat siang seperti ini, kuli banyak berkerumun di sekeliling barang-barang yang baru diturunkan dari kapal.Tapi aku sendiri lebih suka bekerja setelah magrib. Hawa sekitarnya sudah agak dingin dan terasa lebih segar. Barang-barang selalu saja ada yang diturunkan dari kapal sampai larut malam. Konon barang-barang ini milik si lelaki dengan mata kelam itu. Bahkan kapal yang selalu bersandar di dermaga ini, juga miliknya. Ah, apa peduliku ? Toh di dunia ini banyak orang yang memiliki banyak harta benda berikut manusia yang jadi budaknya. Orang ini mungkin salah satunya.

Sebelumnya aku bekerja sebagai karyawan perusahaan garmen di suatu tempat di pulau seberang. Tempat bekerja yang tenang dan menyenangkan. Penghasilan waktu itu cukuplah untuk hidup sehari-hari, apalagi aku hidup sendiri. Cukup nyaman memang, hidup tanpa membebani orang lain dan juga tidak menanggung beban dari siapapun.

Adik iparku tampak prihatin melihat keadaanku yang dinilainya pas-pasan untuk bisa hidup layak. Dia menawarkan untuk kembali ke tempat kelahiranku dan kemudian bergabung bersama dia dan teman-temannya. Tampaknya cukup menyenangkan. Berkeliling dengan motor atau sesekali naik mobil mengambil uang keamanan dari toko-toko yang sudah ditentukan oleh bos. Katanya tugasku hanya mencatat saja pemasukan harian dari toko – toko tersebut. Dan aku termasuk dalam kelompok pengawas. Bahkan ada bonus dan pemasukan tambahan dari pedagang – pedagang di pasar.

Tawaran kerja dari suami adikku kutolak halus. Aku merasa tidak berbakat jadi pelaksana lapangan seperti yang dia tawarkan. Aku pikir bekerja sebagai buruh di perusahaan garmen lebih tenang. Pandanganku seperti inilah yang sering menjadi pemicu pertengkaran dengan ayah.

Saat itu aku cukup merasa lega melihat adikku hidup berkecukupan dan kedua keponakan ku juga tumbuh sehat dan ceria. Sampai pada hari sial itu tiba. Entah kenapa polisi yang biasanya tidak pernah mengusik pekerjaan mereka, melakukan pemeriksaan dan terus menerus menyisir daerah tempat mereka tinggal. Tak lama tersiar kabar pemimpin mereka yang sangat disegani lari ke luar negeri. Organisasipun morat marit. Para ketua kelompok pengawas menghilang entah kemana. Polisi terus saja menciduk orang-orang ini seperti tidak ada habisnya. Suami adikku juga tak luput dari incaran polisi.

Tersiar kabar bahwa para penegak hukum ini seperti mendapat pencerahan dan suntikan energi baru sejak dilantiknya kepala polisi yang baru di ibukota. Bak wabah saja gerakan merekapun tak terbendung. Suami adikku berhasil melarikan diri pada saat diborgol , dia melompat dari mobil patroli dan hingga saat ini, aku tak tahu persis keberadaannya.

Akupun mulai menimbang-nimbang untuk kembali ke kampung halaman. Dua hal yang sangat mengganggu pikiranku, keadaan adikku dan ibuku. Namun ingatanku akan peristiwa pertengkaran dengan ayah melemahkan hasratku untuk kembali.

Pada akhirnya ketenanganku mulai diguncang oleh PHK besar-besaran. Tak lama setelah itu guncangan lebih dahsyat lagi datang dari seberang, membawa berita meninggalnya ibu. Disusul kemudian dengan menghilangnya ayah dan ketiga kakakku. Aku hanya bisa berharap semoga saja ada orang yang mau mengurus jenazah ibu.

Mau tak mau akhirnya akulah yang mengambil alih menanggung beban keluarga adikku. Berat juga rasanya menghidupi kedua keponakanku ini Hidup mereka terlanjur nyaman dan menyenangkan hingga akhirnya kondisi memaksa mereka untuk belajar hidup prihatin. Di tengah hidup keras dan kacau seperti ini, aku bersyukur ternyata aku masih punya rasa iba. Apalagi aku memang cukup dekat dengan adikku ini. Aku memang lain dibandingkan dengan ketiga saudaraku laki – laki . Mereka keras dan pemberani. Ini murni didikan ayah yang selalu mengajarkan bahwa hidup ini adalah keras. Hidup harus selalu siap dihadapi dengan kepalan tangan.

Ayah cukup dikenal sebagai pimpinan para pengawas yang di segani. Sewaktu masih bocah aku pernah beberapa kali diajak ayah memenuhi undangan bosnya. Aku dihadapkan pada aneka makanan yang melimpah yang tidak terbayang sebelumnya. Terpikirpun tidak. Tanganku yang kecil mencoba memegang udang galah yang luar biasa lezatnya. Sang pemimpin tertawa – tawa saja melihat caraku mencicipi kemewahan yang mereka gelar setiap malam. Ku tatap matanya , kelam dan dan dalam. Seperti mata ayah. Anehnya, sekalipun mulutnya tertawa lebar tapi matanya tetap saja redup .

Waktupun terus berlalu, ayah mulai menunjukkan kejengkelannya kepadaku. Aku dinilai tidak berbakat dan tidak punya nyali. Menagih uang keamanan dari warung yang hanya dijaga seorang nenek tua saja aku tak berani. Hanya diam membisu seraya meyodorkan buku panjang yang harus ditulis setiap orang yang ditagih. Tanganku gemetar dan menundukkan kepala ketika orang tua itu mengusirku dan mengomel tak karuan.

Tapi ayah tegas dan keras. Kakakku yang paling tua mengambil alih tugasku. Dia tampak tersenyum dingin saja keluar dari warung itu diiringi raungan dan isak tangis nenek tua itu. Peristiwa itu meninggalkan kesan dalam dan sangat menggores batinku.

Akhirnya aku berpamitan pada ayah dan ibu, mencoba peruntunganku di tanah seberang, diiringi pandangan sinis dan melecehkan ketiga kakakku. Perlahan aku melangkah meninggalkan rumah gedung tempatku dihidupi ayah dan ibu. Ibu hanya menangis saja melambaikan tangannya. Perempuan tua yang tampak lelah dan banyak memendam rasa.

Gebrakan keras membuat meja warung tempatku mengaso, terasa bergoyang – goyang, aku tersentak menatap mata nanar si pengawas yang memerintahkan agar segera kembali bekerja. Lamunanku seketika pecah menguap oleh terik matahari yang masih menyengat.

Kelompok pengawas selalu bermata merah,. Sebagian dari mereka mungkin habis begadang di rumah bordil tak jauh dari pelabuhan bersama perempuan – perempuan yang selalu tertawa bercekikikan mengiris malam.Lengkingannya sering membuat terjaga adikku dan kedua anaknya. Sebagian lagi terus saja mengguyur tenggorokannya dengan minuman keras di bawah panas terik matahari. Suara serak keluar dari mulut beraroma alkohol sering sangat mengganggu, kamipun hanya diam saja menyaksikan dengan hati waswas.

Bagiku menjalani kehidupan seperti itu sangat melelahkan. Berteriak teriak sepanjang hari sambil pamer otot. Berbeda sekali dengan satu lagi sekelompok orang-orang yang juga disebut pengawas, tapi mereka hanya mondar mandir saja di dalam gudang. Mungkin pangkat mereka lebih tinggi. Kadang-kadang mereka melihat sebentar berkeliling di tempat kami bekerja. Mereka lebih tenang dan berperilaku sopan, walau keangkuhan tampak menggurat wajah mereka. Sepertinya ada kesamaan antara mereka dengan ayah. Inilah yang selalu mengingatkan kembali ke masa kecil dulu. Duduk di pangkuan ayah sambil menatap ayah dan teman-temannya satu persatu. Mata yang dalam dan kelam. Atau mungkin terlalu lelah untuk membuka kelopak mata lebih lebar lagi ? Bisa jadi memang begitu. Lelah sepanjang malam menghitung uang dan berkumpul sambil membicarakan hal – hal yang tak kumengeri sampai larut malam. Sesekali aku memang suka menemani ayah menghitung uang dalam buntalan yang diikat dengan karet. Sekali waktu ayah pernah menghitung sampai pagi.

Hari ini ada kesempatan untuk mengaso sebentar. Bisa berpakaian lebih rapih dari hari biasa tentu saja terasa menyenangkan. Hari ini ada pembayaran upah bulanan. Dan aku juga berjanji untuk membelikan kedua keponakanku sepatu dan seragam sekolah mereka. Mendung dan sedikit berkabut tidak menghalangiku untuk berkeliling melihat – lihat gudang di sekitar pelabuhan. Aku tak habis pikir apakah memang betul pria itu yang memiliki kapal berikut isinya ? Dan gudang yang selalu memuat barang yang tiada pernah ada habisnya ?

Tanpa terasa aku berjalan semakin masuk ke dalam gudang. Aku berdecak kagum melihat ketrampilan si operator forklift mengangkat dan menurunkan peti. Maju mundur dan kemudian berputar diantara tumpukan peti.

Teriakan pengawas menggema seperti langsung saja mengatur kami untuk berbaris rapi dalam antrian untuk menerima bayaran. Sudah terbayang di benakku perhitungan untuk bulan ini. Bayar hutang, belanja bulanan, beli sepatu dan seragam sekolah. Habis tak bersisa. Ingin rasanya aku bisa menabung, agar suatu saat nanti bisa membuka warung sembako. Sekarang hanya bisa bermimpi dulu. Bagiku itu mimpi indah, sekalipun bagi ayah itu mimpi orang – orang kerdil. Apa itu berdagang, menunggui warung ? Pekerjaan para pecundang , mereka mencibir.

Bagiku Minggu pagi ini terasa kelabu. Berat dan menghambat. Menghambat rencana hari ini untuk berangkat ke pasar memenuhi janji kepada kedua keponakanku. Ada yang menuntutku untuk merubah arah suapaya segera ke gudang pelabuhan hari ini juga . Tapi kilat mata kedua keponakannku sungguh membuatku tak tega. Begitu bersemangatnya mereka membangunkan paman mereka untuk segera ke pasar beli sepatu dan seragam sekolah.. Dan biasanya kami makan bakso seusai dari pasar. Adikku juga sudah berdandan cantik sekali. Sekalipun mendung duka belum juga pupus dari wajahnya. Ah, nasibmu dik, jadi istri seorang pemalak, batinku.

Perlahan kuselimuti kedua keponakanku dengan kain sprei tua yang mulai kusam. Wajah mereka tampak puas sambil mendekap sepatu yang mereka pilih di pasar tadi. Dengkur halus anak – anak ini sejenak membuatku terharu. Aku berjanji akan selalu berupaya menguatkan mental mereka menjalani hidup. Tubuh ringkih yang mulai kekurangan gizi harus segera diisi dengan semangat juang penuh keberanian supaya bisa terus bertahan. Berani seperti kakek, batinku.

Perlahan aku menutup pintu dan berharap pintu reot ini tidak berderit yang bisa membangunkan adikku. Dia mudah sekali terjaga. Langkahku mantap sekalipun dada bergemuruh. Ke gudang pelabuhan !

Aku masuk dari pintu samping, karena pintu depan tak pernah luput dari perhatian beberapa pengawas. Sore ini agak sepi , tidak banyak kegiatan. Hanya ada beberapa gelintir pengawas ngobrol sambil menunggu orang – orang ditugaskan membersihkan tempat pembayaran kemarin. Aku melayangkan pandangan ke ruangan di sudut yang biasa mereka sebut kantor. Di dekat pintu depan mesin mobil sedan hitam masih hidup. Mobil mewah itu bergetar lembut. Sopir tampak asyik membaca koran menunggu majikannya.

Aku menggigit bibir mencoba menguatkan hati menggeser kaki perlahan mendekati pintu kantor. Pria bermata kelam itu tampak sibuk membolak balik tumpukan kertas. Mataku segera menangkap kilauan kuning emas dari jari manisnya. Perlahan kepalanya diangkat , mungkin mencium aroma kurang sedap dari tubuhku yang sudah sejak tadi mandi keringat. Aku tak perlu menunggu kepalanya mendongak lebih tinggi lagi. Dengan mantap kuayunkan kelewang kesayangan ayah ke arah kepalanya. Dia mengaduh menutupi wajahnya yang bersimbah darah. Ayunan kedua menjungkalkan tubuhnya dari kursi putarnya. Ayunan ketiga menuntaskan semua kegaduhan di ruangan ini. Menyisakan bunyi derit kaki kursi yang berputar.

Aku sudah tak bisa lagi membedakan mana dinginnya angin malam, mana dinginnya kelewang yang kuselip di balik jas hujan. Aku bergegas menerobos hitamnya malam. Segala sesuatunya seperti berjalan begitu cepat. Secepat degup jantung dan aliran darah di tubuhku.

Jariku masih menggenggam erat cincin ayah. Aku kenal betul cincin itu, dengan hiasan kepala naga yang menjadi bagian dari kenangan masa kecilku dengan ayah. Sungguh aku terkejut ketika kemarin sore melihat cincin yang melingkar di jari pria itu. Pandangan matakupun langsung menancap kepada benda yang sangat kukenal itu. Tak biasanya dia datang ke meja pembayaran, menghampiri para anak buahnya. Sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja pembayaran upah, dengan nada jemawa dia mengatakan bahwa harga cincin yang dikenakannya senilai dengan darah empat jawara.

Aku berharap bisa segera mendapatkan kehangatan di rumah, bercengkerama dengan ketiga orang yang kucintai. Perlahan aku masuk melalui pintu dapur, pada saat melewati ruang tengah, tak disangka langkahku tertahan oleh tiga pasang mata yang menatapku aneh. Aku hanya terdiam.

“ Paman, mata paman kelihatan kelam …. “ ucap si bungsu lirih memecah keheningan.

Aku terkesiap !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: