Posted by: mountnebo | February 6, 2009

Gemuruh Batin Marko

GEMURUH BATIN MARKO

Udara pagi segera masuk menghambur mengisi ruangan ketika Marko membuka jendela kamarnya. Tidak ada rasa segar sedikitpun. Kicauan burung bahkan terdengar seperti bunyi-bunyian asing yang tak beraturan.

Marko menatap hampa mobil sedan sport kesayangannya, warna merah marun metalik. Berkilau memantulkan cahaya tajam menusuk hati. Tak ada lagi tersisa kebanggaan dari mobil itu, yang konon kata ayah hanya tiga orang saja yang memiliki benda mewah itu di kota ini.

Di depan pintu garasi pak tua melap perlahan sekujur badan mobil. Ini merupakan bagian dari pekerjaan rutin yang dilakoninya dengan setia membersihkan sederet mobil milik keluarga Marko hampir setiap sore.

Pembantu yang lain juga tampak sibuk berbenah di rumah itu sekalipun mungkin mereka melaksanakan perintah majikan dengan hati penuh tanya.

Ibu Marko memang sudah berpesan ke semua pembantu untuk segera membersihkan dan merapihkan segala sesuatu yang ada di rumah.

Suasana ini seperti yang lazim terjadi setiap kali menjelang akhir tahun di rumah ini. Sanak famili biasanya ada saja yang datang ke rumah. Sebelum diadakan pertemuan keluarga besar , rumah dibersihkan dan bila perlu pagar rumah dicat agar tampak lebih cerah. Tapi kali ini memang lain dari biasa. Ibu Marko justru meminta rumah itu dibersihkan karena tak lama lagi akan mereka tinggalkan.

Marko masih termangu duduk di tepi ranjang. Barang-barang belanjaan masih berserakan dilantai. Beberapa tampak berwarna mencolok dikemas dalam tas plastik dengan logo factory outlet ternama dari Bandung. Begitu lelahnya dia sehingga semua yang barang yang dibawanya tadi malam dihamparkan begitu saja. Lelah luar biasa. Berita dari ibunya begitu mengejutkan sehingga memaksa dia segera kembali ke Jakarta. Keceriaan bersama teman – teman sekolahnyapun langsung lenyap menguap tanpa bekas. Marko merasa tubuhnya seperti dibanting dengan tangan raksasa, menghujam ke bumi kenyataan yang pahit.

Beberapa tahun terakhir ini Marko dan adiknya si kecil Wina begitu menikmati segala kelimpahan dan sukacita yang seperti tiada habisnya. Hampir tiada hari – hari berlalu tanpa kegiatan yang menyenangkan dan begitu menggairahkan jiwa muda Marko. Saat – saat yang sempurna!

Inilah buah – buah sukses yang sekarang sedang ayah petik, begitu kata ayah selalu. Ayahnya juga tak ragu untuk berbagi kepada semua teman dan saudara. Semua yang mencicipi setuju bahwa buah itu manis dan bahkan ada yang sampai ketagihan. Tak sungkan atau malu datang ke rumah untuk meminta lagi kepada ayah.

Marko memandang ayahnya sebagai lelaki dewasa yang hebat dan mengagumkan. Apa ada yang belum diraih ayah? Ah, Marko tak mampu berpikir lebih jauh lagi.

Hanya ibunya yang sepertinya tidak terpengaruh dengan semua itu. Marko sering melihat ibunya tampak merenung setiap kali usai menutup doa pagi – tentu saja di hari – hari kemarin Marko terlalu sibuk untuk turut berdoa bersama ibunya – Tetapi pagi ini ibu menutup doanya dengan menangis tanpa suara.

Di layar kaca, tampak ayahnya didampingi petugas berseragam berusaha menerobos kerumunan wartawan menuju ke sebuah mobil hitam yang sudah menunggu. Sia – sia saja para petugas berteriak menghardik mencoba mengatasi suara hiruk pikuk para mahasiswa dengan yel – yel sambil membentangkan spanduk bertuliskan hujatan kasar kepada ayah.

Reporter menyatakan bahwa ayahnya akan di bawa ke rumah tahanan kejaksaan. Adegan itu berlangsung sekilas saja,tetapi pengaruhnya untuk Marko luar biasa. Terasa ada gemuruh di dalam rongga dada setiap kali adegan itu muncul di semua saluran TV. Gemuruh yang melemahkan seluruh persendian sehingga Marko tak kuasa untuk bangkit menegakkan tubuhnya. Kakipun begitu berat untuk melangkah. Melangkah ke mana ? Tak mungkin melangkah ke dunianya yang sudah berubah warna. Sekarang kelabu menuju gelap.

Perlahan Marko mulai memasuki hari – hari yang panjang dan melelahkan. Sangat menguras energi dan menyesakkan dada. Perlahan pula dia mulai memperkecil dunianya yang dulu terhampar luas tanpa batas.Terus undur sampai batas pagar rumahnya. Batas yang sementara ini bisa meluputkan dia dari tatapan penuh selidik dan cemooh. Tatapan ini pula yang dia hadapi dengan ibunya ketika mereka menyelesaikan urusan administrasi untuk kepindahan sekolah Marko dan adiknya. Beberapa teman ada yang masih memberikan salam dan sapa sekalipun ada jarak yang mulai terbentang. Tampaknya orang – orang mulai mengambil sikap hati – hati. Marko, si bintang sekolah itu, mulai redup cahayanya.

Sesaat sebelum melewati gerbang sekolah, gemuruh yang mengguncang batinnya kembali muncul bersamaan dengan terdengarnya canda tawa sekelompok siswa yang selama ini menaruh rasa kagum dan iri kepadanya. Tawa diselingi sindiran halus mulanya terdengar samar hingga akhirnya terdengar bergemuruh melumpuhkan kakinya. Ibunya mendekap erat bahunya. Perlahan mereka berjalan meninggalkan gedung sekolah itu. Hati baja ibunya menguatkan Marko.

Ini pagi yang terakhir di rumah yang pernah jadi kebanggaan keluarga. Di pagi ini juga kenyataan pahit tergores jelas di hati Marko. Dan akan menjadi sejarah kelam keluarganya. Harapan akan adanya kemungkinan ayahnya luput dari segala macam tudingan kejam itu, pupus sudah. Ayahnya sudah duduk sebagai pesakitan. Tak ada lagi senyum lebar ayah dan cengkeramannya yang kokoh di bahu Marko setiap pagi.

Pagi ini juga sepi. Wina membisu. Ibunya sibuk berkemas. Teman dan sanak saudara juga tampaknya menghilang. Tak ada gelak tawa mereka yang biasa mengisi sampai ke setiap sudut rumah. Entah dimana mereka saat ini. .

Panggilan ibunya kembali menyadarkan Marko dari lamunan. Segera dia bergegas mengumpulkan barang – barang yang berserakan di kamarnya. Kata ibu, rumah dan sebagian besar isinya akan disita oleh negara. Marko sendiri masih bingung memilah-milah barang mana yang bisa dibawa pulang. Ibu memang telah memutuskan mereka kembali ke kota kecil tempat di mana Marko dilahirkan.

Sore ini Marko duduk berhadapan dengan ibunya di teras rumah mereka. Semilir angin senja yang mengusap lembut rambut ibu yang sebagian sudah memutih. Marko sudah lupa persis kapan dia terakhir menatap wajah ibunya dekat dan lekat seperti ini. Senyum ibu yang mampu meredakan gemuruh yang beberapa hari ini menghajar batin Marko sampai ke bagian yang terdalam. Betapa akhirnya Marko menyadari bahwa sang ibu adalah benteng iman keluarga. Benteng yang tak goyah sedikitpun dari dulu sampai sekarang ini. Mulai dari masa sulit sampai ke masa penuh kelimpahan yang memabukkan. Dan akhirnya badai aib memporakporandakan segalanya. Ibu tetap seperti dulu.

“ Kamarmu sudah dibereskan nak ?” Tanya ibunya lembut

Marko hanya mengangguk lemah, sambil terus memandangi sekeliling halaman depan yang teduh dan asri. Segala sesuatu yang ada di sini akan menjadi kenangan,batinnya.

“Kumpulkan saja apa yang kita perlu ya nak , perlengkapan sekolah, buku – buku dan pakaian.”

Marko hanya terdiam. Semua yang ada di sini sudah mengisi penuh hatinya.

“ Berat rasanya meninggalkan ini semua kenyamanan ini ya” ibunya tersenyum tipis sambil menatap putranya seolah mampu membaca kegalauan di hati.

“ Tidak perlu risau. Di rumah yang lama, kita juga punya semuanya nak. Hanya tidak semewah ini. Tapi ibu kira itu sudah lebih dari cukup. Kita bisa menikmatinya dengan hati dan pikiran yang damai. Mungkin ini saatnya kita belajar mencukupkan diri”

Kata – kata sang ibu mulai mengusik kesadaran Marko. Perlahan dia merunut kembali ke waktu yang telah lewat. Seperti mencoba mengingat berapa banyak hal penting dan berharga yang telah terlewat begitu saja. Terlewati dengan cepat karena dia memacu hasrat mudanya seolah takut tidak dapat mereguk semua kesenangan yang tersedia di depan mata.

Ayah Marko sebenarnya sudah memberikan segala apa yang mereka butuhkan. Dan itu sudah cukup. Tapi sayangnya, ayahnya terjebak dalam upayanya untuk mencari lebih dari cukup. Sampai pada akhirnya mereka dipaksa untuk menghadapi kenyataan pahit dan memalukan.

Pagi ini, Marko, Wina dan ibunya bersiap meninggalkan rumah itu. Rumah megah dengan segala kemewahan yang pernah menyilaukan. Sekarang tampak dingin tanpa jiwa. Tak perlu berpamitan pada siapapun, karena pak tua dan para pembantu yang setia juga ikut serta kembali ke tempat yang sama,kampung halaman tercinta.

Ada terasa sesuatu yang lembut muncul perlahan dari dasar hati Marko. Seperti rasa lega yang membebaskan dan menenangkan. Menenangkan gemuruh yang acap kali muncul menghantui malam – malam panjangnya. Membebaskan dia dari segala kesenangan semu yang pernah memenuhi hatinya dan tidak menyisakan ruang sedikitpun. Rasa itu terus membesar seiring dengan semakin mengecilnya rumah mereka dari pandangan mata.

Advertisements

Responses

  1. Ceritanya keren………di awal dikirain bersih2 rumah untuk apa…ternyata cerita selanjutnya cukup mengejutkan……. 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: