Petunjuk Teknis Penanganan Kecambah dan Pembibitan Kelapa Sawit

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas tanaman kelapa sawit, yaitu antara lain jenis tanah dan kualitas bibit. Bibit unggul diperoleh dari program pemuliaan jangka panjang yang konsisten dan jelas asal usul pohon induknya.

Keunggulan bibit masih harus melewati tahap-tahap pengujian terlebih dahulu setelah ditanam di perkebunan komersial secara luas baik dari segi pertumbuhan, produktivitas, umur ekonomis yang panjang, masa TBM ( Tanaman Belum Menghasilkan ) yang pendek dan kemudahan dalam pengelolaannya.

PT Socfin Indonesia atau yang biasa dikenal dengan Socfindo dalam hal ini adalah produsen kecambah unggul yang sudah sangat dikenal disamping sebagai salah satu perkebunan kelapasawit terkemuka di Indonesia, menerbitkan buku saku yang sangat informatif.

Buku kecil ini menjelaskan secara lengkap dan menyeluruh mulai dari karakteristik dan keunggulan bibit hasil persilangan Dura dan Pisifera ( D x P ), prosedur pembelian kecambah, penanganan kecambah, metode penanaman kecambah yang benar sampai dengan budidaya pembibitan untuk menghasilkan bibit unggul siap tanam.

Kecambah yang ditanam dalam polybag, ( largebag atau babybag, tergantung pada sistem budidayanya ), untuk selanjutnya disebut dengan bibit, memerlukan pemeliharaan dalam kondisi kultur teknis yang baik. Ada dua cara pembibitan kelapa sawit, pembibitan satu tahap ( single stage ) dan pembibitan dua tahap ( double stage ). Untuk kondisi di Indonesia PT Socfindo merekomendasikan pembibitan double stage, karena kecambah Socfindo berukuran relatif lebih kecil sehingga memerlukan penanganan yang lebih teliti.

Pembibitan double stage berarti bibit dirawat dalam dua tahap. Tahap pertama ( Pre Nursery )bibit dirawat dalam kantung kecil atau baby bag, dan selanjutnya dipindahkan ke tahap Main Nursery ( setelah berdaun 3-4 helai atau berumur 3 bulan )

Buku ini juga menjelaskan secara rinci, tahapan budidaya pembibitan double stage dengan urutan kegiatan sebagai berikut :

  1. Persiapan LahanPre NurseryMencakup penentuan lokasi bibitan, posisi strategis ( di pusat areal ), topografi datar, terbuka dan dekat dengan sumber air permanen.

    Menyiapkan naungan untuk bibit Pre Nursery, media tanam ( tanah top soil yang bersih dicampur pupuk Rock Phospate )

    Menyiapkan babybag berukuran 15 x 20 cm dengan lobang perforasi

    Menyiapkan layout persemaian, dimana baby bag berisi media tanam tersusun rapi membentuk bedengan

    Penyiraman dilakukan setiap hari seminggu sebelum tanam.

    Disiram sampai jenuh tapi tidak sampai tergenang

    Main Nursery

    Persiapan media tanam, tanah sub soil dengan pupuk Rock Phospate dengan perbandingan 0.5 kg RP untuk 100 kg tanah

    Penyiapan large bag berukuran 42.5 cm x 50 cm dengan lubang drainase

    Penyiapan layout pembibitan dengan jarak antar polibag 90 x 90 x 90 cm membentuk segitiga sama sisi termasuk jaringan irigasi dan jalan kontrol dengan jumlah 13.500 bibit per hektar

  2. Penyiraman merupakan kegiatan yang mutlak harus dilakukan setiap hari pagi dan sore hari terkecuali ada hari hujan dengan curah hujan minimal 10 mm / hari
  3. Pemberian mulsa di permukaan tanah untuk mengurangi penguapan, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi erosi dan mengatur suhu tanah. Mulsa terdiri dari cangkang atau alang-alang kering
  4. Penyiangan gulma dilakukan 2 minggu sekali secara manual termasuk melakukan konsolidasi dengan menambah tanah atau menegakkan bibit yang doyong. Penyiangan secara chemis yaitu menggunakan herbisida dengan nozzelnya ditutupi dengan pelindung untuk menjaga bibit tidak terkena semprotan. Penyemprotan harus lebih rendah dari permukaan polibag
  5. Pengendalian Hama dan PenyakitTidak dibenarkan menggunakan pestisida terutama yang mengandung unsur tembaga, air raksa atau timah. Serangan penyakit biasanya berupa bercak pada daun yang disebabkan oleh jamur dan ditangani dengan menggunakan fungisida. Serangan hama yang umum terjadi, serangga pemakan daun, semut, rayap, jangkrik, siput dan tikus
  6. Pemupukan dimulai 4 minggu setelah tanam, pada saat bibit berdaun 1 helai.Pada tahap Pre Nursery bibit dipupuk dengan urea dan pupuk NPK 15-15-6-4Pemupukan pada tahap Main Nursery menggunakan pupuk NPK 15-15-6-4 dan NPK 12-12-17-2 juga Kieserite
  1. Seleksi di Pre Nursery dan Main NurserySeleksi di Pre Nursery dilakukan dalam 2 tahap, tahap I : umur 4-6 minggu; tahap II : sesaat sebelum pindah ke Main Nursery ( berumur 3 bulan, berdaun 3-4 helai )Seleksi di Main Nursery dilakukan dalam 4 tahap yaitu berturut-turut : umur 4.6,8 bulan dan sesaat sebelum transplanting ke lapangan

Disamping penjelasan tentang budidaya, buku ini juga melampirkan foto – foto yang menjelaskan setiap tahapan budidaya dan jenis-jenis bibit afkir dengan ciri-ciri khas, tata cara penanganan bibit yang benar juga figur bibit dalam perkembangannya.

Disamping itu dilengkapi juga dengan tabel yang berisi rekomendasi pemupukan, tabel pengendalian hama dan penyakit yang secara detail memuat jenis penyakit dan hama yang menyerang bibit dan gejala-gejala umum yang ditunjukkan bibit tersebut.

Buku saku ini juga bisa menjadi buku pedoman praktis atau buku pintar bagi staf di perkebunan kelapa sawit yang bertanggung jawab atas pemeliharaan bibit. Dan tentu saja buku ini bisa menjadi penambahan wawasan bagi masyarakat khususnya para pekebun.

Sumber : Buku Saku Petunjuk Teknis Penanganan Kecambah dan Kelapa Sawit ( Agricultural Department PT Socfin Indonesia )

Posted by: mountnebo | July 29, 2009

cerpen : Kebun Sayur Avner

Kebun Sayur Avner

Avner tercenung di depan pintu masuk kebun sayur milik keluarganya. Hampir tidak ada gairah untuk bermain hari ini. Dia menyandarkan bahunya yang kecil di pagar kebun, seraya menatap hamparan langit biru tanpa batas, tanpa awan. Cuaca mulai terasa panas dan kering dimana-mana.

Di kebun sayur itu, suasana sejuk dan pemandangan serba hijau masih terasa. Ayah dan kakaknya Ruben, yang menyulap sepetak kecil lahan bersemak tak terurus menjadi tempat yang asri seperti ini. Tempat bermain dan bersantai sekaligus sumber pelengkap menu makanan keluarganya yang memang menyukai makanan sayur mayur.

Tetapi yang pasti, bukan cuaca panas yang menjadi penyebab gairah bermain Avner drastis berkurang. Pembicaraan antara mereka bersaudara, si bungsu Avner, dan kakak-kakaknya Josiah, Ruben dan Daniel begitu mengusik pikirannya lebih dari yang sudah-sudah. Dan seringkali terucap kata-kata dari bibir Josiah tentang hal-hal yang membingungkan mereka.

Diantara mereka, Josiah memang tampak unik kalau tidak bisa dikatakan aneh. Itu biasa, dalam setiap keluarga, pasti ada salah satu anggotanya yang cenderung menyimpang. Begitulah si sulung Daniel berteori mengenai salah satu adiknya. Anggapan ini tentu saja ditentang keras oleh ayah dan ibu mereka, yang justru beranggapan Josiah adalah anak yang paling berbakat, mewarisi cara berpikir leluhur mereka yang berasal dari seberang nun jauh di sana. Josiah memiliki kemampuan berpikir secara mendalam dan sangat memahami kitab suci dan begitu merenungkannya siang dan malam. Ditambah lagi kefasihannya berbahasa asli leluhur mereka. Tak bosan-bosannya ibu bercerita dengan bangga kepada setiap orang perihal niat Josiah untuk menjadi pendeta.

Bagi Avner, ayah dan ketiga kakaknya adalah para lelaki yang mengaggumkan. Selalu ada sisi yang menarik dari mereka yang secara diam – diam disimpan di dalam hatinya. Pada saat sedang sendiri, Avner sering mencoba meniru gaya dan tingkah laku mereka.

Ayah adalah seorang pekerja keras yang tekun dan selalu sabar. Dia punya toko kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Sesekali Avner mengikuti ayahnya ke kota untuk berdagang. Begitu juga kakaknya yang lain, kecuali Daniel. Dia selalu menunjukkan kengganannya jika ayah minta bantuannya untuk mengurus toko.

Entah kenapa, Daniel terkadang menyesali sikap ayah yang dinilainya lamban dan berwawasan sempit. Dan juga dengan lancangnya dia menganggap kaum pendatang seperti mereka telah kehilangan jatidiri yang sebenarnya. Pekerjaan yang dilakoni ayahnya, paman dan kerabat lainnya , tak lebih daripada pelarian yang putus asa dari ketidakmampuan mereka mengulang kejayaan dan kegemilangan masa lampau.

Bagi Daniel pekerjaan seperti berdagang, pandai besi, penjahit, tukang sepatu, dan pekerjaan bertukang lainnya amat menjemukan dan tidak ada gairah di dalamnya. Mengapa tidak ada yang menjadi pemimpin dan pejabat di negeri ini ? Mengapa mereka seperti menjauh dari dunia kemiliteran ? Kita juga termasuk bangsa petarung yang mengaggumkan. Ada tercatat dalam sejarah dan sudah ditulis oleh nabi, baca kitab suci ! Begitu bersemangatnya dia di tengah-tengah debat dengan teman-temannya yang kadang kala memuncak menjadi pemicu pertengkaran.

Tapi pada kenyataannya, Daniel yang tampak garang dan pemberani itu ternyata ciut juga nyalinya pada saat berhadapan dengan sekelompok anak-anak yang memang sepertinya diajarkan untuk tidak menyukai mereka. Daniel dan Ruben hanya bisa terdiam sambil mengertakkan gigi mendengarkan penghinaan dan segala macam ocehan tentang keluarga dan leluhur mereka. Justru Josiah si ‘nabi kecil’ – begitulah Daniel menjulukinya – yang tampil ke depan dengan wajahnya yang dingin.

Di hadapan Josiah, kelompok pengganggu itu terdiam saja. Lidah mereka kelu tak mampu berbalas kata dengannya. Remaja tanggung berkacamata ini tampak terlalu bijak untuk mereka hadapi.
Seperti yang diyakini ibu mereka, anak ini memang punya hikmat.

Avner tidak tahu persis kapan dimulainya perseteruan ini dimulai. Tetapi yang pasti, dia sudah belajar banyak dari para orang dewasa, bagaimana mesti bersikap menghadapi mereka. Sekalipun tidak semua bersikap mencemooh, tetapi terasa ada jarak yang terbentang, ditambah sikap was-was mereka yang tidak akan bisa diselubungi dengan senyum dan tawa.

Lamunan Avner pecah, bersamaan dengan suara ibunya yang melengking memanggil namanya dari teras rumah. Angin sore yang dingin menusuk kulit sepertinya memaksa dia untuk kembali ke rumah. Sebelum beranjak bangkit, sekilas dia menatap kebun sayur kesayangannya. Tak rela di melepaskan kebun itu sedetikpun. Kata-kata Josiah masih terngiang di benaknya, bahwa kebun itu tak lama lagi akan lenyap !

Sambil mengunyah roti perlahan, Avner tak melepaskan pandangannya sepicingpun ke arah kakaknya yang aneh ini, Josiah. Kali ini dia sepakat dengan si sulung Daniel, Josiah memang aneh !

“ Ada apa Avner, kurang bersemangat hari Nak ?” ayahnya menatap lembut.

“ Tidak ada yang kurang, Yah. Baik-baik saja “ tukas Avner cepat seolah khawatir pandangan mata ayahnya menembus isi benaknya. Dia berharap ayah tidak banyak berkomentar lagi tentang dirinya. Sebab dia yakin ayah mereka punya kemampuan membaca isi hati anak-anaknya.

“ Seharian kamu di kebun sayur, tadinya ayah mau mengajak kamu ke kota, tapi tampaknya kamu asik sekali “ senyum ayah mengembang.

“ Hemh, dia takut kehilangan kebunnya itu Yah ” tanpa diminta Daniel langsung berkomentar memancing pembicaraan mengarah menjadi lebih serius. “ Si bungsu jadi korban ‘nubuatan’ pendeta kita ini ” katanya sambil menepuk bahu Josiah sambil mencoba bersikap jenaka membelalakkan matanya.

Avner menjadi serba salah. Diliriknya wajah Josiah, dingin seperti biasa. Sulit memang untuk mencoba menebak reaksi Josiah.

Ruben seperti berupaya mengendalikan diri supaya tidak sampai meledakkan tawanya. Tidak demikian dengan ibu yang tampak tidak senang dengan sikap Daniel.

“ Coba jelaskan ada apa semua ini “ tanya ibu datar, tetapi mengandung kesungguhan yang dalam. Khas sikap ibu. Pandangan ibu beralih dari Daniel ke Josiah. Ruben segera mengatupkan bibirnya. Akhirnya semua mata terarah kepada Josiah.

“ Saya merasa kebun sayur kita tak lama lagi akan rusak “ Josiah nyaris bergumam.

“ Betul nak, relakan saja. Musim panas kali ini lebih parah tampaknya. Itu bagian dari peristiwa alam “ ayah tersenyum bijak, mencoba memberi pengertian.

“ Tidak ada hubungannya dengan peristiwa alam, ayah …..” lirih suara Josiah

Ayah terdiam sejenak, menarik nafas perlahan kemudian mengendurkan senyumnya. Memandang ke semua yang ada di meja makan dan berkata, “ Ayah masih belum mengerti ada apa sebenarnya, Josiah bisakah kamu menjelaskannya nak ?”

“ Akan banyak kerusakan terjadi ayah “ Josiah memejamkan mata seperti mencoba mengingat – ngat sesuatu. Seperti berusaha untuk menumpahkan apa yang masih tersimpan dalam ingatannya.

“ Saya tidak bisa menjelaskan dengan lebih rinci, tetapi saya bisa merasakan panas dan perih oleh api, asap dan pukulan bertubi – tubi. Semua roboh dan terbakar. Kita bahkan tercerai berai berlari ketakutan “ Josiah berkata-kata dengan lancar dan datar, tetapi dengan ekspresi wajah diliputi kecemasan amat sangat.

Mata Josiah berair, nanar dan tampak lelah. Mungkin itulah penyebab Avner bersepakat untuk menilai Josiah adalah kakak yang aneh. Darimana dia bisa mendapatkan bayangan mengerikan seperti yang dia ceritakan tadi. Apakah hal itu yang mengganggu tidurnya, yang mampu menyangga kepalanya bertahan tetap tegak sampai dini hari seraya memandang ke arah padang dan rawa yang mulai mengering di ujung bukit tempat matahari jatuh ? Kenapa Josiah terus saja memandang ke arah itu ?

Ibu menutup pembicaraan yang masih menggantung dan meninggalkan banyak pertanyaan di benak mereka. Avner yakin ibu mereka juga dilanda kebingungan yang sama. Ibu menyuruh anak-anak ke kamar dan tanpa banyak bicara membersihkan meja makan. Sekilas Avner melirik ke arah ayah dan ibu yang saling berpandangan, sebelum akhirnya ibu menatap tajam untuk menegaskan ulang perintahnya menyuruh Avner menyusul kakaknya ke kamar tidur.

Avner berusaha keras memejamkan matanya. Ah, dia yakin bahwa kedua orangtuanya sebenarnya faham betul apa yang dimaksud Josiah. Tampaknya mereka enggan membicarakan lebih lanjut kepada anak-anak. Apakah itu yang dinamakan nubuat ? Bayangan – bayangan yang muncul di malam hari, mengganggu kenyamanan tidur, mengusir kehangatan selimut, terus dan terus datang sampai akhirnya nubuat itu menjadi nyata.

Akhirnya Avner menyerah, di tengah usahanya untuk bisa tidur dengan lelap dan mendengkur seperti Ruben yang sudah lebih dahulu masuk ke alam mimpi. Senang bisa seperti Ruben, batin Avner. Kakaknya yang satu ini memang selalu tidur lelap, karena sehari-harinya dia selalu sibuk. Sepulang dari sekolah, dia membantu ayah dan ibu mereka, berolahraga atau sekedar menguji ketahanan tubuhnya mendaki bukit sampai terengah-engah. Tak ada hal yang bisa membuat Ruben cemas atau bingung. Segala sesuatu bisa menjadi menyenangkan baginya.

Avner melangkah perlahan menggeser kakinya menjauhi tempat tidur sambil memiringkan kepalanya mencoba mendengarkan suara orang sedang asyik mengobrol. Jemarinya menyingkap gorden , dan tampak ayah, ibu dan paman Jacob dan beberapa orang tua tetangga mereka. Tak biasanya paman Jacob datang berkunjung ke rumah apalagi larut malam begini. Tampaknya ayah sengaja mengundang mereka.

“ Cepat atau lambat gerakan mereka akan menyebar ke seluruh negeri sampai ke Timur “ paman Jacob angkat bicara seperti mencoba meyakinkan ayah.

“ Saya kira mereka tidak akan gegabah untuk segera masuk ke negeri ini. Ada perjanjian yang sudah mereka sepakati di waktu yang lampau dengan pihak Barat yang perduli dengan kita. Bukan kah begitu ?”

Pak tua di sebelah paman Jacob menggeleng lemah, berat rasanya untuk menyetujui kata-kata ayah barusan. “ Perjanjian tinggal perjanjian, Micah. Mereka bahkan menginjak-injak kesepakatan dengan pemimpin mereka yang terdahulu. Kau ingat ? “

Ayah mengusap kepalanya yang hampir seluruh rambutnya mulai memutih itu. Malam ini ayah tampak semakin tua. “ Di bulan ini, di bulan yang sama pada tahun lalu, ribuan saudara kita dibuang secara paksa ke tanah tak bertuan, perbatasan negeri ini dengan negeri mereka”. Ayah memandang barisan rumah berbatu bata merah khas desa mereka, yang disinari bulan purnama. “ Celakanya petugas perbatasan negeri ini menolak mereka untuk masuk “

“ Ada anak-anak yang mati kedinginan tak kuat menanggung derita “ bisik ibu pilu.

“ Akankah mereka menyebarkan semua amarah dan kebencian ini ke seluruh benua ?” lirih kata paman Jacob seperti bertanya pada diri sendiri.

“ Kita harus bersiap Jacob, ini hanya masalah waktu saja. Mengerikan sekali kalau mereka masuk tanpa tanda-tanda sama sekali “ desak ayah. “ Apalagi anak-anak sudah mulai gelisah “

“ Anak – anak …?” mata paman Jacob terbelalak

“ Yahhh……biasanya memang Josiah yang selalu berfirasat seperti itu “ ayah mencoba menjelaskan walaupun tampaknya masih bingung mengahadapi Josiah. .“ Anak-anak yang lain menggodanya bahwa dia bernubuat “ ayah tersenyum getir.

“ Josiah mengalami mimpi buruk beberapa malam terakhir ini. Dia seperti mendapat penglihatan yang mengerikan yang akan terjadi. Dua kekuatan akan mencerai beraikan kita. Seorang pria berkumis kecil dari Barat dan seorang lagi pria berkumis besar dari Timur akan memisahkan kita tanpa belas kasihan sama sekali. Kasihan Josiah, batinnya tersiksa……”

Ibu menggenggam tangan ayah erat – erat.

Selanjutnya yang terjadi adalah hari – hari yang menyesakkan dada. Tak akan ada lagi peristiwa yang mampu meninggalkan goresan lebih dalam di batin Avner di banding pemandangan mencekam ketika seorang dengan seragam hitam kontras dengan rambut pirang terang keemasan mencengkeram rambut seorang oma tetangga sebelah rumah mereka. Dengan wajah tanpa ekspresi kecuali garis bibir yang yang sedikit tersenyum aneh, orang itu menyeret perempuan tua yang malang itu menuju kumpulan orang-oarng yang akan dibawa entah kemana.

Apakah peristiwa ini ada dalam mimpi-mimpi buruk Josiah, batin Avner. Asap mengepul dimana-mana, bangunan banyak yang terbakar sampai roboh. Avner masih terdiam dalam pelukan ibunya yang masih saja berteriak-teriak memanggil Daniel. Sedangkan ayah bersama dengan paman Jacob dan kakaknya Ruben bergerak menuju hutan dengan beberapa orang dewasa. Mereka akan berjanji akan kembali menjemput Avner dan ibunya. Ibu hanya bisa manggut-manggut saja terisak berdua dengan Avner di gudang bawah tanah, tempat ayah biasanya menyimpan alat-alat pertanian mereka.

Ibu terdiam sambil mengunyah roti yang dibawa Ruben dan ayah mereka. Ibu menangis seharian sampai terduduk kelelahan bersandar di dinding gudang. Pandangan matanya kosong dengan kantong mata yang menggantung dan berdebu. Debu yang sama juga menyelimuti seluruh tubuh ibu yang sebelumnya secara paksa ditarik oleh ayah mereka, ketika berteriak histeris menyaksikan tubuh ringkih Josiah bergoyang limbung kesana kemari tak kunjung jatuh karena terjangan peluru dari berbagai arah.

Josiah sudah tiada. Mungkin dia sudah mendapat penglihatan bahwa hidupnya akan berakhir dengan cara seperi itu. Kata ayah, Josiah sudah berada di surga. Tinggal bahagia dan merdeka di sana bersama para para pahlawan dari abad-abad lampau dan tentu saja bersama para nabi.

Tenaga ayah sudah terkuras ketika berupaya menenangkan ibu. Dia tak mampu lagi membujuk Daniel yang berteriak-teriak meradang dengan mata merah menahan amarah yang meluap-luap.

“ Seperti yang sering ayah baca di kitab suci, kita juga adalah bangsa petarung ayah ! “
“ Kita punya pahlawan yang mampu menaklukkan bangsa-bangsa dan kita juga punya nabi-nabi yang tak putus-putusnya berdoa untuk kita. Kita harus melawan ayah !”

Ayah hanya menggeleng lemah. “ Pemerintah negeri ini sudah takluk anakku. Tentara juga sudah menyerah. Mereka datang bergerak cepat dan kuat. Mereka sungguh kuat “

“ Tidak ayah !”. Daniel beringas dengan mata mencorong. “Aku akan bergabung dengan kelompok perlawanan. Aku mampu menggunakan senjata, ayah. Jari – jari ini tidak hanya sekedar bisa memasang sol sepatu atau hanya menarik garu jerami. Tapi juga mampu untuk melawan…”, kata-kata Daniel terakhir bergetar seperti melawan tangis.

Daniel berpamitan kepada ayah, kemudian memeluk erat ibu dan menciumi keningnya sepuas-puasnya, mungkin pertanda bahwa dia tidak akan kembali. Dia menghampiri Ruben, menjabat erat dan mencengkeram bahunya dan mereka tertawa sambil menangis.

Wajah si sulung Daniel tampak puas, bahagia. Seperti terbebas dari beban yang menghimpit selama ini. Bebas bersikap yang sejati,yang selama ini tersimpan di lubuk hatinya. Ayah dan ibu juga rela melepasnya dan membekalinya dengan doa.

“ Adik kecil….” Daniel merengkuh Avner, menghirup aroma tubuh adiknya dan menciumi wajahnya. “ Aku satu-satunya kakakmu yang hampir tidak pernah memberikan apapun kepadamu , tapi kali ini ada kenang-kenangan untukmu “ , Daniel menyelipkan foto kecil berpigura ke dalam saku baju adiknya. Avner segera mengambil foto tersebut dan menatap gambar Daniel berdiri gagah memanggul senapan berburu.

Langit mulai memerah ketika mereka tiba di puncak bukit. Avner tahu persis tempat ini yang sering ditatap kakaknya Josiah ketika mimpi-mimpi buruk datang mengganggu. Jauh di belakang mereka masih terlihat asap yang mengepul dari puing-puing desa mereka. Tak tampak lagi deretan rumah berbatu bata merah yang biasanya tampak cantik dilihat dari kejauhan. Yang tersisa hanya reruntuhan hitam dan kusam.

Ayah menarik Avner ke pangkuannya sambil menunjuk ke satu tempat. Sekalipun temaram mulai meliputi sekelilingnya, Avner masih bisa melihat tempat yang sudah sangat dikenalnya. Sebagian pagar sudah roboh dilindas tank dan panser. Tapi masih tersisa pintu pagar buatan Ruben berdiri tegak. Kebun sayur kesayangan Avner sudah tidak berbentuk, berantakan. Gemetar tangan mungil Avner memegang teropong milik paman Jacob.

Tangan ayahnya yang kokoh mendekapnya erat. “ Tidak perlu sedih ,nak. Ayah berjanji kita akan buat lagi kebun sayur yang lebih bagus, lebih indah….”, Avner seketika merasakan dada ayah bergetar.

“ Di mana, ayah ? ” Avner menengadah mencari kepastian dari wajah ayahnya.

“ Di suatu tempat nak, di suatu tempat yang baru“ bisik ayahnya.

Panggilan paman Jacob segera mengingatkan mereka untuk berkumpul dan melanjutkan perjalanan. Bergegas mereka menuruni bukit, dan bersiap memasuki hutan yang tampak hijau gelap tak bertepi, yang untuk sementara mampu meluputkan mereka dari maut.

– Jakarta, Awal Juli 2009 –

Posted by: mountnebo | May 8, 2009

angkut aja semua…

gile coy,
temen, sodara en seluruh handai taulan berangkat nyusul oom obama ke washington…he.he..he 1 lagi oleh-oleh dari africa
eh, ini termasuk rekor dunia ga sih ?image001

Posted by: mountnebo | May 7, 2009

#@*///!!!

blind-melon

ini juga rekor dunia coy, paling konyol tentunya 🙂
oleh-oleh dari africa…

Posted by: mountnebo | May 7, 2009

bangunan tertinggi

puncak-duniaMasih ingat masa kecil ?
Duduk di atas dahan pohon mangga atau belimbing, sambil mengunyah buah segar. Nyaman betul dibelai semilir angin sore. Ah….
Tapi seperti apa rasanya duduk di puncak ketinggian 800an meter ?
Tiupan angin rasanya mengerikan. Ini oleh-oleh dari Burj Dubai….

Posted by: mountnebo | May 6, 2009

Lelaki Mata Kelam

Lelaki Mata Kelam

Sesekali aku melirik ke arah pintu gudang yang terbuka setengahnya. Sejak tadi pagi lelaki itu berdiri mematung dengan pandangan mata yang sama seperti hari – hari kemarin. Dari kejauhan matanya tampak dalam dan kelam. Mengingatkanku kepada beberapa orang terdekat yang kukenal baik. Sepertinya mata itu memang menjadi ciri khas untuk sekelompok orang tertentu. Aku bahkan ingin tahu seperti apa bentuk kelopak matanya, tapi sayang, aku selalu berada pada jarak yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Dia tidak pernah beranjak dari gudang itu, sementara aku selalu berada di dermaga bermandi peluh membongkar muat barang-barang.

Kira-kira sudah tiga bulan aku bekerja di pelabuhan ini, yang selalu hiruk pikuk mulai pagi sampai sore hari. Pekerjaan yang sangat mengandalkan otot dan keberanian. Saat siang seperti ini, kuli banyak berkerumun di sekeliling barang-barang yang baru diturunkan dari kapal.Tapi aku sendiri lebih suka bekerja setelah magrib. Hawa sekitarnya sudah agak dingin dan terasa lebih segar. Barang-barang selalu saja ada yang diturunkan dari kapal sampai larut malam. Konon barang-barang ini milik si lelaki dengan mata kelam itu. Bahkan kapal yang selalu bersandar di dermaga ini, juga miliknya. Ah, apa peduliku ? Toh di dunia ini banyak orang yang memiliki banyak harta benda berikut manusia yang jadi budaknya. Orang ini mungkin salah satunya.

Sebelumnya aku bekerja sebagai karyawan perusahaan garmen di suatu tempat di pulau seberang. Tempat bekerja yang tenang dan menyenangkan. Penghasilan waktu itu cukuplah untuk hidup sehari-hari, apalagi aku hidup sendiri. Cukup nyaman memang, hidup tanpa membebani orang lain dan juga tidak menanggung beban dari siapapun.

Adik iparku tampak prihatin melihat keadaanku yang dinilainya pas-pasan untuk bisa hidup layak. Dia menawarkan untuk kembali ke tempat kelahiranku dan kemudian bergabung bersama dia dan teman-temannya. Tampaknya cukup menyenangkan. Berkeliling dengan motor atau sesekali naik mobil mengambil uang keamanan dari toko-toko yang sudah ditentukan oleh bos. Katanya tugasku hanya mencatat saja pemasukan harian dari toko – toko tersebut. Dan aku termasuk dalam kelompok pengawas. Bahkan ada bonus dan pemasukan tambahan dari pedagang – pedagang di pasar.

Tawaran kerja dari suami adikku kutolak halus. Aku merasa tidak berbakat jadi pelaksana lapangan seperti yang dia tawarkan. Aku pikir bekerja sebagai buruh di perusahaan garmen lebih tenang. Pandanganku seperti inilah yang sering menjadi pemicu pertengkaran dengan ayah.

Saat itu aku cukup merasa lega melihat adikku hidup berkecukupan dan kedua keponakan ku juga tumbuh sehat dan ceria. Sampai pada hari sial itu tiba. Entah kenapa polisi yang biasanya tidak pernah mengusik pekerjaan mereka, melakukan pemeriksaan dan terus menerus menyisir daerah tempat mereka tinggal. Tak lama tersiar kabar pemimpin mereka yang sangat disegani lari ke luar negeri. Organisasipun morat marit. Para ketua kelompok pengawas menghilang entah kemana. Polisi terus saja menciduk orang-orang ini seperti tidak ada habisnya. Suami adikku juga tak luput dari incaran polisi.

Tersiar kabar bahwa para penegak hukum ini seperti mendapat pencerahan dan suntikan energi baru sejak dilantiknya kepala polisi yang baru di ibukota. Bak wabah saja gerakan merekapun tak terbendung. Suami adikku berhasil melarikan diri pada saat diborgol , dia melompat dari mobil patroli dan hingga saat ini, aku tak tahu persis keberadaannya.

Akupun mulai menimbang-nimbang untuk kembali ke kampung halaman. Dua hal yang sangat mengganggu pikiranku, keadaan adikku dan ibuku. Namun ingatanku akan peristiwa pertengkaran dengan ayah melemahkan hasratku untuk kembali.

Pada akhirnya ketenanganku mulai diguncang oleh PHK besar-besaran. Tak lama setelah itu guncangan lebih dahsyat lagi datang dari seberang, membawa berita meninggalnya ibu. Disusul kemudian dengan menghilangnya ayah dan ketiga kakakku. Aku hanya bisa berharap semoga saja ada orang yang mau mengurus jenazah ibu.

Mau tak mau akhirnya akulah yang mengambil alih menanggung beban keluarga adikku. Berat juga rasanya menghidupi kedua keponakanku ini Hidup mereka terlanjur nyaman dan menyenangkan hingga akhirnya kondisi memaksa mereka untuk belajar hidup prihatin. Di tengah hidup keras dan kacau seperti ini, aku bersyukur ternyata aku masih punya rasa iba. Apalagi aku memang cukup dekat dengan adikku ini. Aku memang lain dibandingkan dengan ketiga saudaraku laki – laki . Mereka keras dan pemberani. Ini murni didikan ayah yang selalu mengajarkan bahwa hidup ini adalah keras. Hidup harus selalu siap dihadapi dengan kepalan tangan.

Ayah cukup dikenal sebagai pimpinan para pengawas yang di segani. Sewaktu masih bocah aku pernah beberapa kali diajak ayah memenuhi undangan bosnya. Aku dihadapkan pada aneka makanan yang melimpah yang tidak terbayang sebelumnya. Terpikirpun tidak. Tanganku yang kecil mencoba memegang udang galah yang luar biasa lezatnya. Sang pemimpin tertawa – tawa saja melihat caraku mencicipi kemewahan yang mereka gelar setiap malam. Ku tatap matanya , kelam dan dan dalam. Seperti mata ayah. Anehnya, sekalipun mulutnya tertawa lebar tapi matanya tetap saja redup .

Waktupun terus berlalu, ayah mulai menunjukkan kejengkelannya kepadaku. Aku dinilai tidak berbakat dan tidak punya nyali. Menagih uang keamanan dari warung yang hanya dijaga seorang nenek tua saja aku tak berani. Hanya diam membisu seraya meyodorkan buku panjang yang harus ditulis setiap orang yang ditagih. Tanganku gemetar dan menundukkan kepala ketika orang tua itu mengusirku dan mengomel tak karuan.

Tapi ayah tegas dan keras. Kakakku yang paling tua mengambil alih tugasku. Dia tampak tersenyum dingin saja keluar dari warung itu diiringi raungan dan isak tangis nenek tua itu. Peristiwa itu meninggalkan kesan dalam dan sangat menggores batinku.

Akhirnya aku berpamitan pada ayah dan ibu, mencoba peruntunganku di tanah seberang, diiringi pandangan sinis dan melecehkan ketiga kakakku. Perlahan aku melangkah meninggalkan rumah gedung tempatku dihidupi ayah dan ibu. Ibu hanya menangis saja melambaikan tangannya. Perempuan tua yang tampak lelah dan banyak memendam rasa.

Gebrakan keras membuat meja warung tempatku mengaso, terasa bergoyang – goyang, aku tersentak menatap mata nanar si pengawas yang memerintahkan agar segera kembali bekerja. Lamunanku seketika pecah menguap oleh terik matahari yang masih menyengat.

Kelompok pengawas selalu bermata merah,. Sebagian dari mereka mungkin habis begadang di rumah bordil tak jauh dari pelabuhan bersama perempuan – perempuan yang selalu tertawa bercekikikan mengiris malam.Lengkingannya sering membuat terjaga adikku dan kedua anaknya. Sebagian lagi terus saja mengguyur tenggorokannya dengan minuman keras di bawah panas terik matahari. Suara serak keluar dari mulut beraroma alkohol sering sangat mengganggu, kamipun hanya diam saja menyaksikan dengan hati waswas.

Bagiku menjalani kehidupan seperti itu sangat melelahkan. Berteriak teriak sepanjang hari sambil pamer otot. Berbeda sekali dengan satu lagi sekelompok orang-orang yang juga disebut pengawas, tapi mereka hanya mondar mandir saja di dalam gudang. Mungkin pangkat mereka lebih tinggi. Kadang-kadang mereka melihat sebentar berkeliling di tempat kami bekerja. Mereka lebih tenang dan berperilaku sopan, walau keangkuhan tampak menggurat wajah mereka. Sepertinya ada kesamaan antara mereka dengan ayah. Inilah yang selalu mengingatkan kembali ke masa kecil dulu. Duduk di pangkuan ayah sambil menatap ayah dan teman-temannya satu persatu. Mata yang dalam dan kelam. Atau mungkin terlalu lelah untuk membuka kelopak mata lebih lebar lagi ? Bisa jadi memang begitu. Lelah sepanjang malam menghitung uang dan berkumpul sambil membicarakan hal – hal yang tak kumengeri sampai larut malam. Sesekali aku memang suka menemani ayah menghitung uang dalam buntalan yang diikat dengan karet. Sekali waktu ayah pernah menghitung sampai pagi.

Hari ini ada kesempatan untuk mengaso sebentar. Bisa berpakaian lebih rapih dari hari biasa tentu saja terasa menyenangkan. Hari ini ada pembayaran upah bulanan. Dan aku juga berjanji untuk membelikan kedua keponakanku sepatu dan seragam sekolah mereka. Mendung dan sedikit berkabut tidak menghalangiku untuk berkeliling melihat – lihat gudang di sekitar pelabuhan. Aku tak habis pikir apakah memang betul pria itu yang memiliki kapal berikut isinya ? Dan gudang yang selalu memuat barang yang tiada pernah ada habisnya ?

Tanpa terasa aku berjalan semakin masuk ke dalam gudang. Aku berdecak kagum melihat ketrampilan si operator forklift mengangkat dan menurunkan peti. Maju mundur dan kemudian berputar diantara tumpukan peti.

Teriakan pengawas menggema seperti langsung saja mengatur kami untuk berbaris rapi dalam antrian untuk menerima bayaran. Sudah terbayang di benakku perhitungan untuk bulan ini. Bayar hutang, belanja bulanan, beli sepatu dan seragam sekolah. Habis tak bersisa. Ingin rasanya aku bisa menabung, agar suatu saat nanti bisa membuka warung sembako. Sekarang hanya bisa bermimpi dulu. Bagiku itu mimpi indah, sekalipun bagi ayah itu mimpi orang – orang kerdil. Apa itu berdagang, menunggui warung ? Pekerjaan para pecundang , mereka mencibir.

Bagiku Minggu pagi ini terasa kelabu. Berat dan menghambat. Menghambat rencana hari ini untuk berangkat ke pasar memenuhi janji kepada kedua keponakanku. Ada yang menuntutku untuk merubah arah suapaya segera ke gudang pelabuhan hari ini juga . Tapi kilat mata kedua keponakannku sungguh membuatku tak tega. Begitu bersemangatnya mereka membangunkan paman mereka untuk segera ke pasar beli sepatu dan seragam sekolah.. Dan biasanya kami makan bakso seusai dari pasar. Adikku juga sudah berdandan cantik sekali. Sekalipun mendung duka belum juga pupus dari wajahnya. Ah, nasibmu dik, jadi istri seorang pemalak, batinku.

Perlahan kuselimuti kedua keponakanku dengan kain sprei tua yang mulai kusam. Wajah mereka tampak puas sambil mendekap sepatu yang mereka pilih di pasar tadi. Dengkur halus anak – anak ini sejenak membuatku terharu. Aku berjanji akan selalu berupaya menguatkan mental mereka menjalani hidup. Tubuh ringkih yang mulai kekurangan gizi harus segera diisi dengan semangat juang penuh keberanian supaya bisa terus bertahan. Berani seperti kakek, batinku.

Perlahan aku menutup pintu dan berharap pintu reot ini tidak berderit yang bisa membangunkan adikku. Dia mudah sekali terjaga. Langkahku mantap sekalipun dada bergemuruh. Ke gudang pelabuhan !

Aku masuk dari pintu samping, karena pintu depan tak pernah luput dari perhatian beberapa pengawas. Sore ini agak sepi , tidak banyak kegiatan. Hanya ada beberapa gelintir pengawas ngobrol sambil menunggu orang – orang ditugaskan membersihkan tempat pembayaran kemarin. Aku melayangkan pandangan ke ruangan di sudut yang biasa mereka sebut kantor. Di dekat pintu depan mesin mobil sedan hitam masih hidup. Mobil mewah itu bergetar lembut. Sopir tampak asyik membaca koran menunggu majikannya.

Aku menggigit bibir mencoba menguatkan hati menggeser kaki perlahan mendekati pintu kantor. Pria bermata kelam itu tampak sibuk membolak balik tumpukan kertas. Mataku segera menangkap kilauan kuning emas dari jari manisnya. Perlahan kepalanya diangkat , mungkin mencium aroma kurang sedap dari tubuhku yang sudah sejak tadi mandi keringat. Aku tak perlu menunggu kepalanya mendongak lebih tinggi lagi. Dengan mantap kuayunkan kelewang kesayangan ayah ke arah kepalanya. Dia mengaduh menutupi wajahnya yang bersimbah darah. Ayunan kedua menjungkalkan tubuhnya dari kursi putarnya. Ayunan ketiga menuntaskan semua kegaduhan di ruangan ini. Menyisakan bunyi derit kaki kursi yang berputar.

Aku sudah tak bisa lagi membedakan mana dinginnya angin malam, mana dinginnya kelewang yang kuselip di balik jas hujan. Aku bergegas menerobos hitamnya malam. Segala sesuatunya seperti berjalan begitu cepat. Secepat degup jantung dan aliran darah di tubuhku.

Jariku masih menggenggam erat cincin ayah. Aku kenal betul cincin itu, dengan hiasan kepala naga yang menjadi bagian dari kenangan masa kecilku dengan ayah. Sungguh aku terkejut ketika kemarin sore melihat cincin yang melingkar di jari pria itu. Pandangan matakupun langsung menancap kepada benda yang sangat kukenal itu. Tak biasanya dia datang ke meja pembayaran, menghampiri para anak buahnya. Sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja pembayaran upah, dengan nada jemawa dia mengatakan bahwa harga cincin yang dikenakannya senilai dengan darah empat jawara.

Aku berharap bisa segera mendapatkan kehangatan di rumah, bercengkerama dengan ketiga orang yang kucintai. Perlahan aku masuk melalui pintu dapur, pada saat melewati ruang tengah, tak disangka langkahku tertahan oleh tiga pasang mata yang menatapku aneh. Aku hanya terdiam.

“ Paman, mata paman kelihatan kelam …. “ ucap si bungsu lirih memecah keheningan.

Aku terkesiap !

Posted by: mountnebo | February 6, 2009

Gemuruh Batin Marko

GEMURUH BATIN MARKO

Udara pagi segera masuk menghambur mengisi ruangan ketika Marko membuka jendela kamarnya. Tidak ada rasa segar sedikitpun. Kicauan burung bahkan terdengar seperti bunyi-bunyian asing yang tak beraturan.

Marko menatap hampa mobil sedan sport kesayangannya, warna merah marun metalik. Berkilau memantulkan cahaya tajam menusuk hati. Tak ada lagi tersisa kebanggaan dari mobil itu, yang konon kata ayah hanya tiga orang saja yang memiliki benda mewah itu di kota ini.

Di depan pintu garasi pak tua melap perlahan sekujur badan mobil. Ini merupakan bagian dari pekerjaan rutin yang dilakoninya dengan setia membersihkan sederet mobil milik keluarga Marko hampir setiap sore.

Pembantu yang lain juga tampak sibuk berbenah di rumah itu sekalipun mungkin mereka melaksanakan perintah majikan dengan hati penuh tanya.

Ibu Marko memang sudah berpesan ke semua pembantu untuk segera membersihkan dan merapihkan segala sesuatu yang ada di rumah.

Suasana ini seperti yang lazim terjadi setiap kali menjelang akhir tahun di rumah ini. Sanak famili biasanya ada saja yang datang ke rumah. Sebelum diadakan pertemuan keluarga besar , rumah dibersihkan dan bila perlu pagar rumah dicat agar tampak lebih cerah. Tapi kali ini memang lain dari biasa. Ibu Marko justru meminta rumah itu dibersihkan karena tak lama lagi akan mereka tinggalkan.

Marko masih termangu duduk di tepi ranjang. Barang-barang belanjaan masih berserakan dilantai. Beberapa tampak berwarna mencolok dikemas dalam tas plastik dengan logo factory outlet ternama dari Bandung. Begitu lelahnya dia sehingga semua yang barang yang dibawanya tadi malam dihamparkan begitu saja. Lelah luar biasa. Berita dari ibunya begitu mengejutkan sehingga memaksa dia segera kembali ke Jakarta. Keceriaan bersama teman – teman sekolahnyapun langsung lenyap menguap tanpa bekas. Marko merasa tubuhnya seperti dibanting dengan tangan raksasa, menghujam ke bumi kenyataan yang pahit.

Beberapa tahun terakhir ini Marko dan adiknya si kecil Wina begitu menikmati segala kelimpahan dan sukacita yang seperti tiada habisnya. Hampir tiada hari – hari berlalu tanpa kegiatan yang menyenangkan dan begitu menggairahkan jiwa muda Marko. Saat – saat yang sempurna!

Inilah buah – buah sukses yang sekarang sedang ayah petik, begitu kata ayah selalu. Ayahnya juga tak ragu untuk berbagi kepada semua teman dan saudara. Semua yang mencicipi setuju bahwa buah itu manis dan bahkan ada yang sampai ketagihan. Tak sungkan atau malu datang ke rumah untuk meminta lagi kepada ayah.

Marko memandang ayahnya sebagai lelaki dewasa yang hebat dan mengagumkan. Apa ada yang belum diraih ayah? Ah, Marko tak mampu berpikir lebih jauh lagi.

Hanya ibunya yang sepertinya tidak terpengaruh dengan semua itu. Marko sering melihat ibunya tampak merenung setiap kali usai menutup doa pagi – tentu saja di hari – hari kemarin Marko terlalu sibuk untuk turut berdoa bersama ibunya – Tetapi pagi ini ibu menutup doanya dengan menangis tanpa suara.

Di layar kaca, tampak ayahnya didampingi petugas berseragam berusaha menerobos kerumunan wartawan menuju ke sebuah mobil hitam yang sudah menunggu. Sia – sia saja para petugas berteriak menghardik mencoba mengatasi suara hiruk pikuk para mahasiswa dengan yel – yel sambil membentangkan spanduk bertuliskan hujatan kasar kepada ayah.

Reporter menyatakan bahwa ayahnya akan di bawa ke rumah tahanan kejaksaan. Adegan itu berlangsung sekilas saja,tetapi pengaruhnya untuk Marko luar biasa. Terasa ada gemuruh di dalam rongga dada setiap kali adegan itu muncul di semua saluran TV. Gemuruh yang melemahkan seluruh persendian sehingga Marko tak kuasa untuk bangkit menegakkan tubuhnya. Kakipun begitu berat untuk melangkah. Melangkah ke mana ? Tak mungkin melangkah ke dunianya yang sudah berubah warna. Sekarang kelabu menuju gelap.

Perlahan Marko mulai memasuki hari – hari yang panjang dan melelahkan. Sangat menguras energi dan menyesakkan dada. Perlahan pula dia mulai memperkecil dunianya yang dulu terhampar luas tanpa batas.Terus undur sampai batas pagar rumahnya. Batas yang sementara ini bisa meluputkan dia dari tatapan penuh selidik dan cemooh. Tatapan ini pula yang dia hadapi dengan ibunya ketika mereka menyelesaikan urusan administrasi untuk kepindahan sekolah Marko dan adiknya. Beberapa teman ada yang masih memberikan salam dan sapa sekalipun ada jarak yang mulai terbentang. Tampaknya orang – orang mulai mengambil sikap hati – hati. Marko, si bintang sekolah itu, mulai redup cahayanya.

Sesaat sebelum melewati gerbang sekolah, gemuruh yang mengguncang batinnya kembali muncul bersamaan dengan terdengarnya canda tawa sekelompok siswa yang selama ini menaruh rasa kagum dan iri kepadanya. Tawa diselingi sindiran halus mulanya terdengar samar hingga akhirnya terdengar bergemuruh melumpuhkan kakinya. Ibunya mendekap erat bahunya. Perlahan mereka berjalan meninggalkan gedung sekolah itu. Hati baja ibunya menguatkan Marko.

Ini pagi yang terakhir di rumah yang pernah jadi kebanggaan keluarga. Di pagi ini juga kenyataan pahit tergores jelas di hati Marko. Dan akan menjadi sejarah kelam keluarganya. Harapan akan adanya kemungkinan ayahnya luput dari segala macam tudingan kejam itu, pupus sudah. Ayahnya sudah duduk sebagai pesakitan. Tak ada lagi senyum lebar ayah dan cengkeramannya yang kokoh di bahu Marko setiap pagi.

Pagi ini juga sepi. Wina membisu. Ibunya sibuk berkemas. Teman dan sanak saudara juga tampaknya menghilang. Tak ada gelak tawa mereka yang biasa mengisi sampai ke setiap sudut rumah. Entah dimana mereka saat ini. .

Panggilan ibunya kembali menyadarkan Marko dari lamunan. Segera dia bergegas mengumpulkan barang – barang yang berserakan di kamarnya. Kata ibu, rumah dan sebagian besar isinya akan disita oleh negara. Marko sendiri masih bingung memilah-milah barang mana yang bisa dibawa pulang. Ibu memang telah memutuskan mereka kembali ke kota kecil tempat di mana Marko dilahirkan.

Sore ini Marko duduk berhadapan dengan ibunya di teras rumah mereka. Semilir angin senja yang mengusap lembut rambut ibu yang sebagian sudah memutih. Marko sudah lupa persis kapan dia terakhir menatap wajah ibunya dekat dan lekat seperti ini. Senyum ibu yang mampu meredakan gemuruh yang beberapa hari ini menghajar batin Marko sampai ke bagian yang terdalam. Betapa akhirnya Marko menyadari bahwa sang ibu adalah benteng iman keluarga. Benteng yang tak goyah sedikitpun dari dulu sampai sekarang ini. Mulai dari masa sulit sampai ke masa penuh kelimpahan yang memabukkan. Dan akhirnya badai aib memporakporandakan segalanya. Ibu tetap seperti dulu.

“ Kamarmu sudah dibereskan nak ?” Tanya ibunya lembut

Marko hanya mengangguk lemah, sambil terus memandangi sekeliling halaman depan yang teduh dan asri. Segala sesuatu yang ada di sini akan menjadi kenangan,batinnya.

“Kumpulkan saja apa yang kita perlu ya nak , perlengkapan sekolah, buku – buku dan pakaian.”

Marko hanya terdiam. Semua yang ada di sini sudah mengisi penuh hatinya.

“ Berat rasanya meninggalkan ini semua kenyamanan ini ya” ibunya tersenyum tipis sambil menatap putranya seolah mampu membaca kegalauan di hati.

“ Tidak perlu risau. Di rumah yang lama, kita juga punya semuanya nak. Hanya tidak semewah ini. Tapi ibu kira itu sudah lebih dari cukup. Kita bisa menikmatinya dengan hati dan pikiran yang damai. Mungkin ini saatnya kita belajar mencukupkan diri”

Kata – kata sang ibu mulai mengusik kesadaran Marko. Perlahan dia merunut kembali ke waktu yang telah lewat. Seperti mencoba mengingat berapa banyak hal penting dan berharga yang telah terlewat begitu saja. Terlewati dengan cepat karena dia memacu hasrat mudanya seolah takut tidak dapat mereguk semua kesenangan yang tersedia di depan mata.

Ayah Marko sebenarnya sudah memberikan segala apa yang mereka butuhkan. Dan itu sudah cukup. Tapi sayangnya, ayahnya terjebak dalam upayanya untuk mencari lebih dari cukup. Sampai pada akhirnya mereka dipaksa untuk menghadapi kenyataan pahit dan memalukan.

Pagi ini, Marko, Wina dan ibunya bersiap meninggalkan rumah itu. Rumah megah dengan segala kemewahan yang pernah menyilaukan. Sekarang tampak dingin tanpa jiwa. Tak perlu berpamitan pada siapapun, karena pak tua dan para pembantu yang setia juga ikut serta kembali ke tempat yang sama,kampung halaman tercinta.

Ada terasa sesuatu yang lembut muncul perlahan dari dasar hati Marko. Seperti rasa lega yang membebaskan dan menenangkan. Menenangkan gemuruh yang acap kali muncul menghantui malam – malam panjangnya. Membebaskan dia dari segala kesenangan semu yang pernah memenuhi hatinya dan tidak menyisakan ruang sedikitpun. Rasa itu terus membesar seiring dengan semakin mengecilnya rumah mereka dari pandangan mata.

Posted by: mountnebo | February 3, 2009

Biaya Pembangunan Kebun Kelapa Sawit

Krisis ekonomi yang melanda dunia usaha sekarang ini juga berimbas langsung ke usaha agribisnis / agroindustri khususnya perkebunan kelapa sawit dan pengolahan CPO.

Biaya pembangunan kebun kelapa sawit mengalami lonjakan kira – kira 30 – 35 juta per ha mulai dari pembukaan lahan sampai dengan pemeliharaan tanaman tahun ke 3 (  sumber Disbun).

Diharapkan dengan turunnya harga pupuk yang merupakan 60 % dari biaya perawatan tanaman, biaya pembangunan kebun bisa turun ke 30 jutaan per ha.

Perhitungan di atas berlaku untuk lahan mineral dimana areal tersebut semakin berkurang dan orang sudah berekspansi ke lahan gambut yang biaya oporasionalnya lebih tinggi. Dan akan ada biaya ekstra untuk pembangunan jaringan drainase yang mutlak dilaksanakan untuk mengatur air tanah dan keasaman tanah.

Kalimantan yang menjadi ajang untuk pengembangan perkebunan sawit besar – besaran adalah areal yang mayoritas terdiri dari lahan gambut dan masih ada sedikit lahan mineral yang cenderung berbukit. Lahan berbukit juga membutuhkan biaya ekstra untuk pembukaan lahan karena areal bukit tersebut harus diteras untuk jalur tanaman.

Posted by: mountnebo | February 3, 2009

Salam,

Salam untuk semua,

Saya coba tebar info apa saja yang berguna.

Thanks

Categories